Menjadi seorang ibu adalah anugerah terindah bagi seorang perempuan. Bahkan gelar tertinggi untuk seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu. Menjadi seorang ibu adalah hadiah Tuhan yang paling terindah. Terlalu agung peran sebagai seorang ibu sehingga untuk dilukiskan dalam kalimat pun rasanya saya sebagai perempuan kekurangan kalimat. Begitu luar biasanya Tuhan menciptakan perempuan yang dibekali rahim untuk mengandung dan melahirkan sehingga menjadikannya semakin sempurna dengan panggilan, 'ibu'. Oia alhamdulillah salah satu sobat blogger saya, jeng Irly, baru saja berbagi tentang keseruan menjadi seorang ibu. Pasti seru banget ya, apalagi ini adalah pengalaman pertama. Seperti apa? Yuks intip sama - sama keseruan menjadi seorang ibu di http://www.dunia-irly.com/
Dewasa ini peran seorang ibu semakin komplit, apalagi bagi ibu yang juga bekerja kantoran. Manajemen waktu dan manajemen emosi sangat diperlukan dalam mengelola waktu serta stress yang tak jarang berdampak buruk kepada ibu dan tentunya kepada si kecil.Nah ini bisa memacu timbulnya burn out pada Ibu.
Burn Out? Apa sih itu?
Mungkin hampir semua ibu pernah merasakan burn out atau yang dikenal sebagai perasaan burnout adalah istilah
psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan
kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan
seseorang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger
pada tahun 1974. Nah fenomena burnout atau situasi dimana ibu kelelahan, yang dikarenakan pekerjaan yang terlalu menumpuk. Banyak peneliti yang mengukur tingkat pekerjaan perempuan dalam rumah tangga dengan persentase 60% dibanding lelaki yang hanya 40%. Dimana siklus kegiatan perempuan mulai dari bangun lebih awal hingga bangun lagi ( wah ibu memang luar biasa ya)
Lelah secara emosional, merasa capek, merasa kehabisan energi. merasa tidak mampu lagi mengerjakan apapun, sehingga berdampak kepada psikologi ibu, hingga dikenal seperti menjadi momzilla. Kemudian sasaran dari burnout adalah anak. Kenapa anak lebih sering jadi sasaran ya moms? karena anak memang tidak berdaya. Jadi tidak adil bagi anak, karena mereka sebenarnya tidak tahu apa - apa. Burnout menjadi fenomena yang sering kita alami baik disadari atau tidak ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang, seperti yang dijelskan teh Hira, salah seorang pakar psikologi yang fokus membahas tentang perempuan yang aq kenal lewat IG ( nanti ya aq ceritain lebih lanjut soal teh Hira).
Filosofi untuk mengatasai burnout adalah memberikan makna pada kejadian yang kita alami. Burnout banyak terjadi pada seorang ibu yang tenggelam dalam rutinitas karena ibu belum menemukan makna atas peran yang dijalankan sebagai seorang ibu.
Solusi burnout
1. Solusi Filosofis
Berbicara tentang filosofis, kita berbicara akar penyebab burnout. Laki - laki dan perempuan itu dibedakan secara biologis. Nah mari sedikit mengulang pelajaran sejarah, kembali kemasa dimana kita menjadi manusia primitif. Kondisi biologis akan membuat perempuan primitif seakan tidak berdaya. Laki - laki primitif seakan telah memiliki aktivitas yang membuat mereka memang lebih dari perempuan, misalnya mereka berburu dan berpindah, bertarung menghadapi musuh - musuh lain. Laki - laki juga disebut makhluk alam sehingga logika mereka semakin berkembang.
Fenomena yang kompleks bagi seorang perempuan adalah cara kita mengabdi kepada Tuhan. Setiap hal yang dilakukan dari sudut pandang filosifis menurut teh Hira sebagai psikolog adalah menjadi seorang ibu adalah cara mengabdi kepada Tuhan. Mencapai ridho Allah. Mau yang bekerja atau beperan full sebagai ibu rumah tangga jika kita mampu memaknai hakikat kita sebagai manusia dalam hal ini menjadi seorang ibu, sebaiknya cara kita memaknai peran yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita adalah dengan bersyukur sekaligus sebagai sarana ibadah kepada Tuhan.
2. Faktor Psikologis
Sumber daya waktu, karena sejatinya kita memiliki jam - jam biologis. Karena ada saat kita kelelahan tapi harus dihadapi dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga. Salah satu hal yang penting bagi manusia adalah self awarness, sebagai bahan baku untuk memanage diri. Jadi untuk bisa mengendalikan emosi kita harus mengenal emosi kita dulu.
Cara mengatasi burnout
1. Kemampuan manajemen menyangkut waktu, sumber daya, komunikasi misalnya menghindar dari keadaan yang akan memunculkan emosi. Contoh paling kecil adalah keluar rumah dulu sejenak mencari udara segar. Ini terapi paling mudah dan praktis yang juga biasa dilakukan oleh teh Hira saat mengalami gejala burn out.
Namun ada juga cara untuk menghindari terjadinya burn out, yaitu dengan managemen waktu yang baik.
2. Pengendalian emosi.
Untuk bisa mengendalikan emosi kita harus mengenal emosi dulu.
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi.
Ternyata komunikasi dalam keluarga tidak kalah penting ya moms, apalagi kepada pasangan. Semoga kita semua dikarunia pasangan yang mampu mengerti dan membantu mengatasi burn out ya moms. Semangat!!!
Wah ternyata ngomongin tentang perempuan apalagi tentang ibu dan burn out bisa seseru ini ya moms (bagi yang pernah ngalamin mungkin waktu pertama baca bakal senyum sendiri) dan bagi yang belum ngalamin semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat kelak ya calon moms :)
Salam :)
